Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Nasib Guru Honorer Makin Sengsara Ditengah Pandemi Corona

Guru adalah pahlawan tanda jasa mungkin itulah kalimat yang pas bagi guru honorer di Indonesia. hingga sampai saat ini pemerintah daerah maupun pemerintah pusat masih saling adu lempar tanggung jawab tentang nasib kesejahteraan para guru honorer. Bahkan ditengah wabah pandemi corona nasib guru honorer semakin memprihatinkan.



Akibat efek dari PSBB yang berlaku disejumlah daerah menyebabkan sekolah mengganti pembelajaran siswa dirumah akibat pemebelajaran siswa melalui jarak jauh atau PJJ. Salah satunya dengan metode online. Metode online ini tentu membutuhkan akses data internet baik guru dan siswa dan data internet pun harus bayar dengan membeli kuota atau paket voucher internet.

Ada salah satu kasus yang terekspose dimana guru honorer terpaksa ngutang ke warung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akibat penerapan PSBB para guru honorer pun tidak bisa mencari pekerjaan sampingan. " Iya bener pak kalau kita gak ngutang dari mana? Di Rumah aja tapi anak istri perlu makan". kata Maulana Azhar sala satu guru honorer SMAN 1 Padarincang Kabupaten Serang seperti diberitakan halaman Banten.IDNtimes(11/5).

Seorang guru honorer yang mengajar di SMA Negeri cenderung menpadatkan upah yang cukup layak jiak dibandingkan Sekolah SMP atau SD Bahkan TK. Apalagi nasib guru honorer yang mengajar di sekolah swasta tentu gaji mereka lebih kecil. sebagai contoh beberapa sekolah swasta pun kesulitan bayar gaji guru honorer.

Semenjak pembelajaran di rumah tidak semua sekolah punya fasitilas yang baik dan tidak semua daerah tercover jaringan internet sehingg beberapa sekolah swasta tidak bisa melakukan pemebelajaran jarak jauh atau PJJ." Saya sudah beberapa bulan terakhir ini di rumah, tidak mengajar lagi. Tidak menerima gaji". ungkap Theresia, salah satu guru honorer pada sekolah swasta di Manado. seperti dilansir halaman Liputan6 (12/5)

Ketua Asosiasi Kepala Sekolah Seluruh Indonesia (AKSI) Provinsi Sulut Drs David M legi mengaku sekolah swasta atau yayasan kelsulitan dana untuk membayar gaji guru honorer karena salah satu sumbernnya dari SPP bulanan. Sedangkan orang tua siswa beranggapan bahwa selama 2 bulan belajar dirumah tidak perlu bayar SPP.

Dana BOS ayng diperuntukkan untuk sekolah swasta ternyata tidak cukup untuk menggaji guru honorer terlebih pembelajaran jarak jauh juga membutuhkan biaya sedangkan ada juga orang tua siswa yang tidak mampu karena terdampak Covid-19 dan PSBB yang akhirnya tidak bisa bekerja atau terkena PHK.

Masih banyak persoalan yang terjadi pada guru honorer bahkan janji pemerintah yang akan mengangkat para tenanga guru honorer K2 pun belum ada tindakan yang nyata. Faktanya peserta tenaga guru Honorer yang ikut lolos dama Program P3K (pegawai pmerintah dengan perjanjian kerja) belum mendapatkan haknya apalgi gaji. Total sebanyak 51ribu tenaga honorer K2 yang lulus PPPK pada tahu 2019 lalu belum juga mendaptkan payung hukum. Diharapkan pemerintah segera merevisi rancangan Perpres yang didalamnya menunut tentang gaji dan tunjangan pegawai pemerintah dengna perjanjian kontrak kerja (P3K) segera selesai.

Itulah beberapa nasib sengasara yang dialami oleh tenaga pendidik yaitu guru honorer ditengah wabah virus corona. Guru honorer itu jelas sangat jauh dari kata sejahtera bahkan untuk bisa makan saja sampai ngutang ke warung.

Apalgi para guru honorer yang sudah punya istri dan anak yang harus diberi makan dan tempat bernaung yang bahka nsampai ngontrak. Tentu para guru honorer ini perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah pusat dan daerah selama ditengah wabah corona.

Media banyak memberitakan bahwa ojek online adalah yang paling terdampak corona padahal tidak begitu masih ada tukang becak, tukang jualan keliling, dan tentunya guru honorer dengan gaji hanya ratusan ribu perbulan tidak akan cukup untuk hidup yang layak bahkan sebelum corona datang pun mereka jauh dari kata sejahtera.

Para guru honorer jika dibandingkan dengan ojek online tentu kalah jauh penhasilan lebih besar dari ojol. Guru hanya mendapatkan gaji dari jam menagajar sedangkan ojek online bebas 24 jam jika mau bekerja bisa mendapatkan ratuasan ribu dalam sehari. Katakan saja ojol  bisa paling sedikit dapat 15ribu dalam sehari bisa mendapatkan 400ribu lebih dalam sebulan sedangkan guru honorer tingkat SD ada yang digaji hanya 150ribu perbulan dan itu pun tergantung dari dana BOS yang kadang dibayar pertiga bulan dan hal itu sudah terjadi lama sebelum wabah pandemi corona.

close