Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Memastikan Keamanan Pangan di Indonesia Selama COVID-19

Ketahanan pangan sedang dibahas secara luas sebagai konsekuensi dari dampak pandemi COVID-19 yang semakin meluas. Karena makanan adalah kebutuhan dasar, persediaan makanan adalah salah satu masalah kritis yang perlu ditangani segera. Di tengah wabah Indonesia, seruan pemerintah kepada publik untuk bekerja dari rumah dan menjaga jarak fisik, serta beberapa pemerintah daerah yang telah menerapkan pembatasan sosial skala besar (PSBB), telah membuat perubahan signifikan di hampir semua aspek kehidupan. Ini termasuk perubahan pada rantai pasokan makanan dari produksi ke konsumsi..

Petani dan produsen makanan lainnya mulai mengalami perubahan dalam rantai pasokan. Mereka juga harus menyesuaikan proses produksinya untuk memastikan kualitas dan keamanan pangan selama epidemi, terutama di daerah yang terkena dampak. Logistik dan distribusi juga mengalami beberapa penyesuaian dalam hal memasok pasar modern dan pasar online.

Sementara itu, dalam hal konsumsi, mode transaksi juga sudah mulai berubah, seperti ditunjukkan oleh semakin banyaknya transaksi menggunakan platform digital atau online. Kondisi ini pada akhirnya membutuhkan penyesuaian strategi dalam kebijakan pangan di seluruh rantai pasokan untuk memastikan ketahanan pangan di Indonesia.

Hampir semua negara berusaha memenuhi kebutuhan pangan domestik mereka karena gangguan perdagangan internasional sejak COVID-19 mulai menyebar di seluruh dunia. Prioritas harus diberikan pada fasilitas yang mendukung produksi pangan, seperti subsidi untuk mesin dan peralatan pertanian, pupuk dan benih. Ini adalah kebutuhan yang sangat mendesak, karena 93 persen petani Indonesia adalah petani kecil.

Protokol produksi juga diperlukan untuk memastikan kualitas dan keamanan pangan selama epidemi. Oleh karena itu, Kementerian Pertanian dan kantor pertanian regional harus menjamin bahwa semua fasilitas dan bantuan pendukung produksi disampaikan secara efektif. Mereka juga harus mengawasi penerapan protokol produksi makanan untuk menghentikan penyebaran COVID-19.

Data kementerian menunjukkan bahwa pasokan beberapa bahan makanan pokok, seperti beras dan jagung, kemungkinan cukup untuk menutupi tiga hingga empat bulan ke depan. Tetapi pasokan komoditas makanan lain seperti bawang putih dan daging sapi rendah. Oleh karena itu, mengimpor barang-barang ini sangat mendesak dan penting, terutama selama Ramadhan dan Idul Fitri ketika permintaan sedang memuncak. Diperlukan koordinasi impor yang baik antara kementerian perdagangan dan pertanian serta Badan Logistik Negara (Bulog).

Logistik dan distribusi memiliki peran yang sangat strategis untuk dipenuhi selama penyebaran virus, terutama dalam hal mematuhi kebijakan COVID-19 dan memenuhi kebutuhan domestik, terutama dalam makanan dan kebutuhan terkait makanan. Impor komoditas pangan perlu mendapat perhatian sebelum distribusi komoditas ini di seluruh negeri.

Logistik dan distribusi terkait erat dengan mobilisasi penyedia layanan logistik yang relevan di sepanjang rantai pasokan, dari pengiriman dan pergudangan, serta dari titik awal ke titik akhir yang melibatkan produsen, distributor, pengecer, dan konsumen.

Rencana mitigasi COVID-19 harus mempertimbangkan saluran distribusi, yang melibatkan interaksi fisik antara bisnis dan perantara. Area karantina yang memberlakukan pembatasan interaksi fisik dan pergerakan orang harus memberikan pengecualian pada logistik dan distribusi.

Komoditas primer seperti makanan harus mengadopsi penanganan khusus dan prosedur lain yang berbeda dari biasanya. Logistik dan prosedur distribusi yang berbeda harus diadopsi untuk makanan dibandingkan dengan komoditas lain karena daya tahan dan sterilitas makanan harus dipertahankan sampai mereka mencapai tujuan akhir.

Salah satu prosedur yang harus diadopsi dalam logistik dan distribusi adalah dekontaminasi semua komoditas, pekerja, dan peralatan. Peralatan pelindung pribadi standar (APD) seperti masker, sarung tangan, pakaian steril dan pembersih tangan harus digunakan tidak hanya oleh tenaga medis tetapi juga oleh pekerja logistik dan distribusi.

Kesiapan pekerja dan kendaraan logistik dan distribusi menjadi penting ketika pekerja harus menjalani pemeriksaan kesehatan, sementara bagian dalam dan luar kendaraan logistik harus didekontaminasi menggunakan desinfektan. Terminal angkutan juga harus didekontaminasi.

Dengan mempertimbangkan geografi, distribusi populasi, dan permintaan pangan Indonesia yang semakin tidak elastis selama epidemi, sistem pasokan dan infrastruktur distribusi harus sangat efisien.

Sebagai kesimpulan, ketersediaan pasokan makanan dan stabilitas harga pangan sangat penting, terutama selama dua bulan ke depan.

Sementara musim panen berikutnya terjadi pada bulan Mei-Juni, pemerintah masih perlu memastikan kelancaran distribusi makanan di seluruh negeri. Selain itu, harus juga memastikan bahwa semua fasilitas dan bantuan yang diberikan disampaikan secara efektif sesuai dengan
close