Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Inilah Yang Disalah Artikan Buka Puasa Dengan Yang Manis

Bulan Ramadan adalah tradisi umat muslim yang diwajibkan bagi umatnya untuk menjalankan ibadah puasa yang menahan hawa nafsu lahiiryah dan batiniyah dari terbit fajar hingga terbenam matahari. seseorang yang berpuasa akan mengalami dehidrasi dan penurunan kadar gula akibat berkurangnya asupan kalori dalam tubuh selama menjalani shaum. untuk itu ketika kita berbuka puasa harus mengembalikan asupan kalori kita agar energi kita pulih kembali.



Ada pendapat umum yang sudah akrab ditelinga bahwa berbuka itu harus dengan yang manis, terlebih hal itu menyebar saat beberapa iklan yang mempromosikan minuman dengan slogan berbukalah dengan yang manis. hal ini bisa menjadi salah arti bagi masyarakat bahwa berbuka itu cenderung dengan yang manis-manis.

Faktanya tidak seperti itu dalam kaitannya dengan berbuka puasa ada hadist yang menjadi pedoman dasar untuk menu berbuka puasa seperti diriwayatkan dari  Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka dengan beberapa biji ruthab (kurma masak yang belum jadi tamr) sebelum shalat Maghrib; jika tidak ada beberapa biji ruthab, maka cukup beberap biji tamr (kurma kering); jika itu tidak ada juga, maka beliau minum beberapa teguk air.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadits Hasan Shahih).

Ada 3 menu berbuka puasa yang dicontohkan oleh Rosulullah yaitu kurma ruthab atau kurma basah, kurma tamr atau kurma kering dan satu lagi adalah air biasa atau bening. yang perlu diperhatikan pertama adalah kurma basah dan kering ke dua kurma ini merupakan kurma asli dan rasanya tidak terlalu manis serta tergolong dalam karbohidrat kompleks. Ke dua air biasa atau bening merupakan minuman yang paling sehat dan tidak berbahaya karena dibutuhkan setiap hari oleh tubuh kita untuk menjaga kesehatan dan perlu diketahui tubuh kita terdiri lebih dari 70% cairan.

Menurut laporan www.amazine.co secara medis ada 2 jenis karbohidrat yatiu sederhana dan kompleks. Karbohidrat sederhana dicerna dan diserap oleh tubuh dengan mudah sedangkan karbohidrat kompleks tinggal dalam aliran darah lebih lama karena struktur kimia yang kompleks. Studi terbaru mengungkapkan bahwa makanan dengan karbohidrat kompleks dianggap lebih baik karena mengandung nutrisi lainnya, seperti serat makanan, yang penting bagi tubuh.

Meski demikian, karbohidrat kompleks lebih direkomendasikan karena penyerapan lambat memberi efek menguntungkan pada kadar gula darah dan menjaga tingkat insulin tetap stabil. Karbohidrat sederhana, di sisi lain, diketahui memicu fluktuasi mendadak tingkat gula darah yang dianggap berbahaya. Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa karbohidrat sederhana dikenal menghasilkan ledakan singkat energi, sedangkan karbohidrat kompleks mampu memfasilitasi suplai energi secara stabil dan dalam jangka lebih lama.

Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa berbuka yang manis itu bukan merupakan sebuah keharusan dan tidak mempunyai dasar. Memang setiap orang mempunyai selera masing-masing dalam menyantap makanan dan minuman termasuk menu berbuka puasa tapi alangkah baiknya jika lebih cerdas dan teliti pilihlah menu buka puasa yang sehat dan bergizi apalagi sesuai anjuran rasul selain sehat dan bergizi juga mendapatkan pahala karena mengikuti sunnahnya. Semoga artikel ini menjadi panduan dasar anda dalam memilih menu buka puasa yang cocok terutama bagi yang mempunyai penyakit gula darah.
close